Nensi Golda Yuli — March 5, 2012, 5:02 pm

PNS oh PNS

Tulisan ini hanya sebuah ke'galau'an saya (ikut2an alay ala Syahrini) tentang potret birokrasi kita saat ini dan di masa 10-20 tahun mendatang.

Saya bukan anti PNS, toh dari saya lahir sampai saya menyelesaikan sekolah, uang yang digunakan untuk membiayai itu semua ya dari gaji PNS. Karena Mama dan Papa saya keduanya adalah PNS....PNS sejati bahkan menurut saya. Kenapa PNS sejati? karena seingat saya sejak dulu yang dilakukan oleh kedua orang tua saya sehari-harinya ya memang mengabdikan diri untuk negara. Tidak jarang kami 3 bersaudara sering ditinggal pergi untuk dinas ke luar kota...walaupun jika dibandingkan dengan teman yang orangtuanya adalah pengusaha, kontraktor atau dokter yang punya praktek di luar jam kerja, kehidupan kami jauh lebih sederhana. Sederhana memang normatif bagi tiap orang. Tapi bisa dibayangkan bahwa sampai saya-sebagai anak sulung- sekolah SMA-kami baru bisa membeli mobil seri Hijet tahun 80-an, dimana teman lain sudah naik Mobil Kijang Kapsul sekelas Rangga atau Krista di masa itu. Mobil bekas yang dibeli pun harus melalui kredit selama 10 tahun karena kepentingan fungsional kalau harus mengantar semua anak bersekolah pada waktu yang bersamaan dimana fasilitas angkutan umum sangat amburadul di kota kami yang kecil.

Yang membuat saya prihatin dengan kondisi PNS adalah, pola rekrutmen yang saat ini dijalankan, tidak benar-benar bisa menjaring kompetensi calon pegawai itu sendiri. Hal ini adalah pengalaman pribadi saya sendiri. Untuk memenuhi keinginan ortu tentang impian anaknya jadi PNS, saya diminta untuk mengikuti seleksi PNS di tahun 2007. Karena tidak mau mengecewakan, maka saya pun dengan bersuka hati mengikuti proses pendaftaran dan tes PNS, padahal saat itu saya sudah menjadi Dosen Kontrak di salah satu PTS di DIY. Semua peserta yang mengikuti tes, disuguhi soal ujian yang seragam, durasi pengerjaan yang sama, namun hasil dari tes tersebut nanti akan dibedakan lagi dimana penempatan masing-masing calon pegawainya.

Bagaimana bisa dengan alat uji yang seragam, tidak melakukan tes kompetensi namun langsung akan ditempatkan di bidang yang berbeda-beda? ckckckck..saya hanya geleng-geleng kepala saja..

Hasilnya? saya tidak lulus....namun bagi orang tua saya, sampai hari ini nomer tes PNS tersebut tetap disimpan, sebagai bukti, bahwa sebenarnya anaknya sudah ada niat untuk mengabdi untuk daerahnya toh tidak diterima, walaupun saya merasa saat itu saya cukup kesulitan menjawab semua soal yang diujikan, namun di mata kedua orang tua saya, mereka menganggap saya cukup punya potensi baik dari intelegensi maupun potensi lainnya (menurut ortu saya lho...)

Saat itu sudah booming isu-isu sekitar suap menyuap PNS, orangtua saya pun sempat menawari saya tentang hal itu. Saat itu saya hanya berkomentar begini : daripada uangnya untuk nyogok masuk PNS, mending saya gunakan untuk buka usaha, itung2annya jelas dan pastinya jauh lebih halal dari sekedar menyuap.

Sampai hari ini potert PNS itu pun semakin suram. Banyak teman yang bercerita dengan gamblang bagaimana dan berapa dana yang harus dikeluarkan untuk menjadi PNS...pfffhhhhh...jumlahnya cukup fantastis, cukuplah untuk membeli sebuah mobil baru dari kelas menengah...hahhhh?

Ya begitulah yang terjadi saat ini. Yang saya tidak habis pikir, apa yang ada dibenak para CPNS tersebut ketika memulai hari pertama mereka di kantor sebagai birokrat??? jika saya mau main tebak-tebakan, maka hal di bawah ini adalah yang terpikirkan oleh mereka:

"Bagaimana ya caranya mengembalikan uang yang sudah dipakai untuk menyuap agar ketrima jadi PNS?"

hmmm...maka tidak heran jika kejar target dan kejar setoran untuk mengembalikan modal yang biasanya didapat dari penjualan tanah, kebun atau rumah milik orang tua menjadi motivasi kuat para PNS muda saat ini, sehingga bukan menunnjukkan kinerja namun berkejaran dalam mendapatkan sebanyak-banyaknya uang dalam waktu sesingkat singkatnya...jawabannya tak lain dan tak bukan : K O R U P S I

Jadi geleng-geleng kepala deh kalau membayangkan semua hal tersebut di atas.

Yang saya jelaskan di atas adalah fenomena yang saya sendiri ketahui di kota tempat kelahiran saya, mungkin karena di kota kecil yang terimbas pemerintahan desentralisasi, sehingga banyak raja kecil yang membuat kerajaannya sendiri, sehingga sang raja butuh banyak upeti untuk mengkokohkan pemerintahan dan kekuasaannya...

Namun bukankah PNS adalah abdi negara yang seharusnya menjadi pelayan publik di berbagai sektor?

Semestinya mereka yang bekerja di sana adalah mereka yang sadar 100 % akan tanggung jawab pelayanan dimana kepentingan masyarakat luas harus berada di atas kepentingan pribadi dan golongan? sehingga harus tetap mengedepankan orang-orang yang berkompeten dan memiliki empati pada berbagai posisi dalam sebuah perahu yang bernama PNS.

No Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI.

No comments yet.

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.