Nensi Golda Yuli — March 5, 2012, 4:34 pm

FB dan Business Area

Kemarin saya posting status di salah satu jejaring sosial tersohor di negeri ini-FB. Isi postingan bagi saya sebenarnya hanya mau memancing reaksi para FBers yang sampai saat ini menggunakan sarana ini bukan saja sebagai ajang silaturahim (ini istilah menurut saya dimana fungsi utamanya FB) namun juga untuk ajang promosi barang dagangan.

Postingan yang saya lontarkan, kurang lebihnya seperti ini :

Nensi Golda is erasing friendlist who use facebook as a business area...maaf ya prenz FB buat silaturahim bukan ajang buka lapak.

Beragam komentar dan beberapa jempol menyukai postingan ini. Saya sih santai saja menanggapi celotehan beberapa teman saat itu. Yang membuat saya tergelitik adalah salah satu teman yang mengirimkan message pribadi via inbox, isi message-nya adalah mempersilakan saya meng-unfriend beliau, karena beliau mengatakan toh dia memang jualan dalam rangka mencari rizki yang halal....nada-nadanya beliau protes dengan postingan saya tersebut di atas.

Teman yang mengirimkan message tersebut adalah teman di masa lalu sejak jaman kuliah dulu dan kebetulan beliau adalah sahabat dari salah seorang sepupu saya yang juga kuliah di Jogja.

Saya kemudian menjawab isi message itu seperti ini :

Maaf ya mbak..bagi saya FB adalah sarana untuk silaturahim, karena memang fungsi FB adalah sebagai jejaring sosial, sesuai fungsi tersebut maka kembalikan saja ke khitohnya untuk sarana bersosialisasi. Kalau memang mau jualan kan ada situs yang memang untuk jualan, seperti ebay, okeeshop, dan kalau mau jualan buku bisa di Amazon.

Oia..terkait masalah jualan buku, si pemrotes mengatakan di messagenya bahwa dia menjual buku adalah untuk investasi dan berniat untuk melancarkan gerakan gemar membaca bagi pecinta FB...sesaat setelah membaca message ini,,,yang terpikir oleh saya: wah mulia sekali hati orang ini, mengajak orang untuk gemar membaca. Pemerintah melalui perpus-perpus yang ada di tiap daerah sejak jaman saya belum lahir sampai saat ini sudah melancarkan program ini, namun pada kenyataannya minat baca kita memang sangat rendah.

Terkait dengan minat baca, saya kembali teringat pada saat sesi presentasi proposal penelitian DIKTI tahun 2011. Saat itu kebetulan salah satu presenter mengajukan judul penelitian terkait korelasi minat baca dengan sistem perpustakaan yang ada di DI Yogyakarta dan Jateng. Satu komentar reviewer saat itu adalah, bahwa minat baca itu bisa meningkat atau tidak dipengaruhi banyak hal, salah satunya adalah individunya sendiri.

Yang menarik bagi saya dalam berbagai cerita konyol dan lucu (setidaknya bagi saya) ada 2 poin:

1. Kita menggunakan teknologi dan menyenangi bergaul di jejaring sosial, tentunya harus tetap memperhatikan etika dan peruntukan kenapa jejaring sosial itu dibuat. Kalau memang akan jualan, toh FB menyediakan halamannya yang terletak di sisi kanan (biasanya) untuk beriklan. Yaaa..tentunya ini tidak gratis, karena pasti Fb sudah memperhitungan pembagian hasil dari iklan ini, toh berjualan juga mesti punya modal kan..

2. Maraknya bisnis secara online, tidak bisa dipungkiri cukup bisa memenuhi kebutuhan banyak orang yang butuh barang dengan cepat tapi tidak punya waktu untuk berkunjung ke toko/gerai-gerai. Namun secara lebih mendalam, coba kita pikirkan nasib pasar tradisional yang semakin tersingkir dengan maraknya bisnis online. Kehadiran toko-toko Franchise 24 jam milik pemodal besar seperti Ind*grup dan sebagainya saat ini saja sudah menjadi ancaman pedagang kecil di pasar tradisional, apalagi kalau semua pada rame-rame berjualan secara online. Mbah bakul dan mas sayur pasti akan terus ketinggalan dengan sistem jualan online.

Saya, sebagai wanita, juga hobi berbelanja. Apalagi keaadaan saat ini yang mengharuskan saya tinggal di Eropa dalam rangka studi, mau tidak mau menuntut saya untuk mengikuti kultur bangsa Eropa yang lebih senang berbelanja online. Bagi orang Eropa situasi dan musim kadang mengakibatkan mereka tidak bisa leluasa untuk mengunjungi toko-toko untuk berbelanja setiap saat. Saya pun juga begitu, namun dari beberapa kali saya berbelanja secara online sebagian besar tidak terlalu puas ketika barang belanjaan sampai di rumah, mulai dari ukuran yang kurang pas, bahan yang tidak sesuai harapan sampai kepada warna yang tidak sama seperti dispay yang ditampilkan secara online.

Namun di Indonesia?

Seagala sesuatunya masih mungkin, pasar tradisional masih terjangkau dalam jarak dan waktu. Selain bisa berinteraksi dengan pedagang, barang yang akan dibeli bisa dilihat, dipegang, bahkan di coba-coba dulu sebelum memutuskan jadi beli atau tidak. Selain itu bisa saling tawar menawar harga juga. Itulah seninya berbelanja di Indonesia, yang kadang membuat saya sangat rindu dengan tanah air dengan segala kearifan lokal yang dimiliki yang tidak akan dapat saya temui di negeri Eropa ini.

Kalau mau berfikir agak berat, mungkin bisa kita tarik cerita di atas ke dalam paham ekonomi kerakyatan yang dicetuskan oleh Moh. Hatta (kalau tidak salah). Kalau bukan kita yang mau bersama-sama memajukan ekonomi yang dikelola orang wong cilik, siapa lagi?

Layaknya mobil Esemka yang belum lolos uji emisi dan layak jalan, menyitir tanggapan Jokowi di Tempo.com..bahwa yang sekarang harus segera dilakukan adalah membangun jatidiri bangsa...

Semoga menginspirasi saya untuk lebih senang ke pasar tradisional daripada belanja online.

No Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI.

No comments yet.

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.