Nensi Golda Yuli — December 30, 2008, 12:42 pm

Relokasi Tanpa Penggusuran

Ketika berlibur ke Solo, saya selalu menyempatkan untuk lewat Taman BaleKambang Solo. Selain dekat dengan rumah Kakak yang di Pasar Burung Manahan, pemandangan Balekambang sekarang sudah benar-benar berbeda jika dibandingkan 2 tahun yang lalu, ketika pertamakali saya ke sana.

Kebijakan walikota Joko-Wi yang ramah terhadap pelestarian budaya kota Solo patut diacungi jempol dan dicontoh oleh banyak birokrat di negeri ini. Bukan suatu hal yang tidak mungkin memecahkan permasalahan relokasi PKL melalui jalan damai-dialog antar warga-sehingga para PKL bukan saja mau direlokasi tapi dengan sukarela memindahkan barang-barang mereka ke tempat lain.

Tepat yang dulu identik sebagai daerah slum, kantong kekumuhan kota Solo, sekarang menjadi salah satu tempat berlibur akhir minggu bagi keluarga atau sekedar tempat nongkrong anak muda. Apalagi setelah ditambahkan fasilitas Free Hot Spot-yang sekarang menjadi new life syle-masyarakat kota.

Kembali menilik bagaimana proses relokasi itu dilakukan, Walikota Joko-Wi tidak hanya melakukan satu-dua kali dialog, tetapi lebih dari 50 kali dialog dilakukan untuk menjaring aspirasi masyarakat dari kelas bawah tanpa harus mendikte apa yang harus mereka lakukan. Masukan masyarakat di terima dan didiskusikan bersama, jalan keluar untuk relokasi itu sendiri juga dirembug bersama, dan pemerintah juga memberikan pinjaman kredit lunak kepada para PKL, dengan asumsi bahwa hari-hari pertama setelah relokasi, mereka tidak akan bisa maksimal berjualan, karena masih sibuk penataan di tempat yang baru. Satu solusi kompromistik yang menawarkan saling pengertian satu sama lain.

Tidak jarang untuk melihat kondisi faktual masyarakatnya, Pak Wali berkeliling menggunakan Pit Onthel keluar masuk kampung-memakai caping-untuk menyamarkan jati dirinya. Sebagai suatu inspeksi mendadak dan langsung terhadap kota tercintanya.

Apa yang bisa kita petik disini adalah pemimpin di masa sekarang adalah pelayan bagi masyarakatnya, bukan merasa diri raja yang harus selalu diikuti kemauannya dan selalu dilayani semua kebutuhannya. Mumpung masa kampanye masih hangat-hangatnya, sekarang kita butuh mempertajam nurani terhadap siapa yang sebenarnya pantas disebut sebagai calon pemimpin yang baik, yang melayani masyarakatnya dan juga siap untuk menyuarakan hati nurani rakyat.

2 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI.

No comments yet.

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.